When I was in senior high school, I like reading some poems weather it is Indonesian poems or English. Reading poems always causes some special senses for me. Just like another work of art, poetry is very pleasure. I found this sense when I read some romantic poems in a literature magazine named Horizon. I found out the fact that there are some works of literature, especially poetry which can bring a kind of unknown feeling. The feeling finally make me constantly like the literature. The feeling increase when I read Sonnet 18 of William Shakespeare in my school library. The poems had been translated into Indonesian but I didn’t understand the meaning but I like it. Then I tried to read the English version but I still no idea to be figured out. Actually my English was quite good in that time but in deed I still found the difficulties in understanding the English poems. Therefore, by this reason, I took the English Language and Literature for my subject in order to figure out the English literature. I believe that literature is not only about pleasure, it contain so much knowledge and meaning. I also believe that students who take this subject are such clever student because English literature is about the high level of English language. They not only speak about the grammar, vocabulary or pronunciation but they speak about the essence and the substance of the language. English literature student pass the basic skills of English language and learn about many things such as politic, psychology, culture, etc. Therefore I want to be one of them.
Kamis, 2009 Maret 05
Kamis, 2008 Juni 26
yang sempat terpikirkan ketika merenung
1. jika kau ada berkesempatan masuk ke dalam lingkaran ini
mereka bilang, kita akan memiliki mata yang sama
2. jika kau datang dengan tumpukan luka
dan aku menanti dengan sepangut kata-kata
maka lingkaran kita sempurna!
3. kali ini aku benci menjadi sungai yang mengalir sederas ini
karena aku ingin berlama-lama menggenang pada tubuhmu
yang gemar turun mandi
Selasa, 2008 Mei 06
LUKISAN MALAM DI PARASMU
selain malam, ada yang tak sempat ku lukis dari parasmu. hingga tak bisa ku urai yang berdiam di balik teduh tirus itu. waktu begitu tergesa-gesa. aku jatuh di tikung basah ketika tatapku melabuh matamu. sedang kau tengah berunggun di kepalamu sambil
memintal akar-akar.
“jangan menyebut-nyebut kabar dari angin selarut ini. unggun api bisa padam”
namun sejauh mana sanggup mencari tepi dari selingkar air?
adakah kesanggupan bersitahan dengan nasib curian. atau dengan catatan cuaca yang memenuhi rambutmu merupa halaman tak bertangan.
barangkali disinilah cerita menjadi sejarah yang tak kunjung tercatat.
sebab malam tidur terlalu lelap. dan kau tak pernah melihat aku merupa siang yang mimpi dari tepimu.
karena ternyata selain malam, tak ada yang patut untuk ku lukis dari parasmu
ruangsempit, 2008
MENGAPAK TARDJI
kubaca lagi tardji;
“akhirnya hurufku habislah sudah.
kata-kataku tak sebatas allah”
Beri aku arak!
aku ingin sebatas mabuk. menakik kata-kata yang kecamuk
patahkan kredo yang placebo
Beri aku kapak!
pecahlah almanak. pecahlah
segala tampak
ada tardji dalam aku sajak
ruangsempit, 2008
BERTINGGIRAN JENJANG
di tanah yang lama tak disilau kemarau
berserak jenjang-jenjang tak sanggup dikaping
“jangan bergesa membakarnya” kata mamak
barangkali suatu nanti ada yang rindu pijakan.
tapi jerajak terburu dibentang. menghalau siapa
yang menapak simpang-simpang yang saling memagar
pula tak siapa yang menyanggup untuk menakik petuah
yang hilang hulu dan muaranya
”kita terlanjur dikutuk jadi manusia yang rindu pertemuan”
kataku pada mamak dalam barasian
karena selalu tak satu yang tak tersinggah
atau jenjang yang tak tersilau sudah patut kita jelmakan getah
ruangsempit, 2008
Jumat, 2008 April 11
Arif Rizki dan Pramodya Ananta Toer
Masalahnya adalah, ketika karya Pram hilang, bukanlah sebuah halangan baginya untuk menciptakan karya yang lebih besar setelah itu. Namanya masih akan tetap didengar oleh orang. Sedangkan saya tak lebih dari seorang yang baru saja membuka pintu dan memulai langkah. Berharap-harap akan ada ide-ide yang berjatuhan dari langit agar kemudian nama saya bisa dikenang.
Sesungguhnya ini bukanlah kejujuran yang mesti saya paparkan. Tetapi, jika saja hal ini tak terjadi sebelumnya, tetentu blog ini akan lebih beragam.
Ya, ini bukanlah hal yang perlu dipaparkan. Barangkali setelah ini saya harus lebih berhati-hati terhadap apa saja yang bernama virus, termasuk sebuah kekuasaan yang bisa saja menjelma menjadi virus dan menghancurkan karya saya.
Selasa, 2008 Maret 25
BATU BATIKAM
usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.
kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi
merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak
yang menggenangi badan kita
hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada
dan langkahku kau genggam di hulunya.
juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,
tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita
di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam
maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam
RuangSempit, 2008
Padang Ekspress, Maret 2oo8