Kamis, 26 Juni 2008

yang sempat terpikirkan ketika merenung

ah..

1. jika kau ada berkesempatan masuk ke dalam lingkaran ini
mereka bilang, kita akan memiliki mata yang sama

2. jika kau datang dengan tumpukan luka
dan aku menanti dengan sepangut kata-kata
maka lingkaran kita sempurna!

3. kali ini aku benci menjadi sungai yang mengalir sederas ini
karena aku ingin berlama-lama menggenang pada tubuhmu
yang gemar turun mandi

Selasa, 06 Mei 2008

LUKISAN MALAM DI PARASMU


selain malam, ada yang tak sempat ku lukis dari parasmu. hingga tak bisa ku urai yang berdiam di balik teduh tirus itu. waktu begitu tergesa-gesa. aku jatuh di tikung basah ketika tatapku melabuh matamu. sedang kau tengah berunggun di kepalamu sambil

memintal akar-akar.

“jangan menyebut-nyebut kabar dari angin selarut ini. unggun api bisa padam”

namun sejauh mana sanggup mencari tepi dari selingkar air?

adakah kesanggupan bersitahan dengan nasib curian. atau dengan catatan cuaca yang memenuhi rambutmu merupa halaman tak bertangan.

barangkali disinilah cerita menjadi sejarah yang tak kunjung tercatat.

sebab malam tidur terlalu lelap. dan kau tak pernah melihat aku merupa siang yang mimpi dari tepimu.

karena ternyata selain malam, tak ada yang patut untuk ku lukis dari parasmu

ruangsempit, 2008

MENGAPAK TARDJI

kubaca lagi tardji;

“akhirnya hurufku habislah sudah.

kata-kataku tak sebatas allah”

Beri aku arak!

aku ingin sebatas mabuk. menakik kata-kata yang kecamuk

patahkan kredo yang placebo

Beri aku kapak!

pecahlah almanak. pecahlah

segala tampak

ada tardji dalam aku sajak

ruangsempit, 2008

BERTINGGIRAN JENJANG


di tanah yang lama tak disilau kemarau

berserak jenjang-jenjang tak sanggup dikaping

“jangan bergesa membakarnya” kata mamak

barangkali suatu nanti ada yang rindu pijakan.

tapi jerajak terburu dibentang. menghalau siapa

yang menapak simpang-simpang yang saling memagar

pula tak siapa yang menyanggup untuk menakik petuah

yang hilang hulu dan muaranya


”kita terlanjur dikutuk jadi manusia yang rindu pertemuan”

kataku pada mamak dalam barasian

karena selalu tak satu yang tak tersinggah

atau jenjang yang tak tersilau sudah patut kita jelmakan getah

ruangsempit, 2008

Jumat, 11 April 2008

Arif Rizki dan Pramodya Ananta Toer

Seminggu yang lalu, karya-karya saya seperti puisi, cerpen, essay, ataupun coretan-coretan yang belum selesai, hilang diterpa sebuah virus yang bernama aneh; Godham. Ah, tak ada sisa. meskipun kata-kata. Seketika saya teringat pada Pramodya yang juga mengalami hal yang sama.Bedanya adalah. Dia adalah seorang Pramodya. Dan saya adalah seorang Arif Rizki yang bukan apa-apa. Karya-karya Pram sengaja dihilangkan karena karya tersebut terlalu berbahaya bagi sebuah rezim yang memerintah di saat itu. Sedangkan karya saya sengaja dihilangkan sebuah virus yang sengaja diciptakan manusia demi komoditi bisnis.
Masalahnya adalah, ketika karya Pram hilang, bukanlah sebuah halangan baginya untuk menciptakan karya yang lebih besar setelah itu. Namanya masih akan tetap didengar oleh orang. Sedangkan saya tak lebih dari seorang yang baru saja membuka pintu dan memulai langkah. Berharap-harap akan ada ide-ide yang berjatuhan dari langit agar kemudian nama saya bisa dikenang.
Sesungguhnya ini bukanlah kejujuran yang mesti saya paparkan. Tetapi, jika saja hal ini tak terjadi sebelumnya, tetentu blog ini akan lebih beragam.
Ya, ini bukanlah hal yang perlu dipaparkan. Barangkali setelah ini saya harus lebih berhati-hati terhadap apa saja yang bernama virus, termasuk sebuah kekuasaan yang bisa saja menjelma menjadi virus dan menghancurkan karya saya.

Selasa, 25 Maret 2008

BATU BATIKAM

usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.

kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi

merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak

yang menggenangi badan kita

hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada

dan langkahku kau genggam di hulunya.

juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,

tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita

di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam

maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8






PERISTIWA PULANG

di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin

yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata

dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.

sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.

bukan di gerbang stasiun atau rel karatan

kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan

kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja

matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi

hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.

dan matamu tetap saja air tawar

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8

KERANDA HUJAN

bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.

menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.

ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah

petuah yang kau kepalakan setingginya

ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu

kau minta aku membacanya

aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.

sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku

aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga

masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu

kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.

dan kau tak akan memugar payung bukan?

diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu. kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8

Rabu, 23 Januari 2008

ode sajak

ODE SAJAK I

Kekasihku membangun nisan dalam sajakku ketika tungku sisakan abu

Aku maka bicara dalam rembang malam telanjang

“sunggingkan saja bibirmu,

akan kukejar bahagia walau satu debu .

tinta ini tak membangun rumah singgah, sayang

tapi membangkit istana sulaiman.”

Padang, desember 2007

ODE SAJAK II

Sajak-sajak bermenung di meja kamar

Mengantri sesak berpeluh berdebar

Menunggu disembelihsebab wabah tak sudi memulih

Pengganti beras belumlah setara

Pula tak cukup berkelana

Maka kubiar sajak-sajak ini

Menanggung pesakitan hingga nanti mati pasti

Padang, desember 2007

GRAVITASI DI KENINGMU


di keningmu. telah aku lama menerka-nerka jalan yang patut

untuk kubaca bersama angin

disanalah pelan kau menyindirku dalam sejemput malam yang buat aku gamang

“keranjang apa kiranya yang kau bawa bersama kereta kuda”

selalu demikian.

kau pampang pintu lebar yang bersahut-sahut memanggilku untuk duduk bersila

“ambil lah sesukamu saja!” sembari menyodorkanku segala apa kau punyawalau hematku biasa saja

tapi di keningmu menyayat garis lurus berlampu gemintang yang sedang aku tuju

hingga keningku keningmu sepadan diadu

dan hai!jembatan tak terbangun dari pohon-pohon keningmu

LALU KITA PELURU

LALU KITA PELURU

Di tanah ini kita si tuli pelepas bedil

Si buta peniup lesung, dan

Si cacat penjaga ayam

Mereka bermain catur

D

H

O

R

R

R

Lalu kita peluru!

Selasa, 22 Januari 2008

Kabar Terkubur

;rindu kemenakan

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah aku eja serumpun makna walau tak bersua
kita pernah berdua mengekori apa maunya abad, pun jua tersesat
saat mengejar kilat air yang coba beramah tamah di padang pasir

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah kau pahat sendiri
rupa nisan sehabis mengkhatamkan sunyi

‘jadilah superman.” katamu
ketika kumenangis pulang sekolah. dan kau menyanyi lagu lawas
aku terlalu kepompong untuk meraba makna yang tak bersua

kemenakan rindu kau jinjing, mak
namun pangku pupus jinjingan retak
tongkat tertanam dimakan rayap
dan kau pulang tak bilang-bilang
dalam igau rindu ku pajang

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
kusimpul saja makna baku:
sebuah bantal selimut tebal susu kental lebih ku kenal ketimbang menghafal sesal

tentang matahari yang padam di tungku api—lagi kau tangisi
kubilang aku terlalu kepompong untuk meramu madu dan mengasah pilu setajam paku
kaulah yang urung berkabar sebelum berkubur
perihal peti resah yang simpan rahasia; kesedihan

PELABUHAN

hari ini matahari terlambat bangun tidur, katamu
dan keabadian sajak telah kau pahat dalam ranjang-ranjang
yang mengekang lenguh-lenguh perawan
kalender-kalender telah botak. bila kau bosan mengangkat panggilan dari kesunyian,
di hatiku ada cermin retak. masuklah. angin terlalu kencang untuk berjalan
akan kita nyalakan tungku-tungku yang patahkan waktu setelah kau jemu pecahkan tampuk rindu
dinding-dinding yang sabar. kertas-kertas yang lapar.
adalah pelabuhan yang menampar tahun-tahun penantian para penggali sumur air mata
yang jenuh berkeluh kesah. catatlah! catatlah!
kegelisahanpun menahun
lahirkan tinta-tinta yang racun

padang, desember 2007

SAKIT RUMAH

ternyata masih kudengar sedu mu ketika ku tertatih menjerang kantuk.
hai. di suatu pagi, pernah pula ku dengar sedu yang sama
diantara kardus yang bisu, dan diantara selimut berbulu
menyerapahi gegedung yang menggunung
negri ini terlanjur konyol,
tempat disenandungkan sumpahsumpah yang klise
jadi kita tak perlu lagi memakai wajah ini mulai besok pagi
karena di bilangan pasirpasir, wajahwajah dapat digantiganti setiap hari
air mata tak lagi setajam pedang, dan kau tahu itu!
maka ini terlalu parak siang untuk mengelap peti kematian meski peradaban bukan lagi kawan sepermainan
aku tahu. kita serupa pencatat musim-musim yang singgah
dan di tepian pelabuhan kita terlanjur sakit rumah.

padang, desember 2007

BACALAH RAMBU

setiap pedang yang kau titip dalam hujan air liur. mengantar jabat tangan
yang sangat ku hafal dalam semata angin. lalu ribuan bertenggang pun ku habiskan membaca jejak
perjalanan yang kuraba dengan suluh redup.
kala ku tiba membawa kaba yang tak sudah. kau masih saja buta akan aksara pengembaraan. Oh, bukankah aku pernah mencabut sebatang rambu-rambu yang bertulis rindu dan memampang nya di depan pintu mu
yang tiap ku ketuk semakin ku terkutuk

jam dinding masih berlari, mandan.
mengerjaiku dengan bisik laut yang tak tentu masa yang dulu teringkari.
mungkin aku akan pulang pada dermaga yang kau bangun dari sisa kayu pagar itu suatu nanti.
ku harap kau tak lagi membaca terbalik rambu-rambu itu

padang, desember 2007

HALTE

Disini kita tak saling menemu diri. Sebab tak ada yang mesti dipertemukan
Diantara kepergian dan kepulangan.
Kau yang merajut payung; bilamana hatimu hujan saja tak peduli musim
Dan akulah yang selalu menolak pemberianmu
“bawalah, mendung sudah memberat.”
Aku tak perlu akannya. Bahagialah aku pada kekuyupanku

Seseorang telah membangun halte ini. tapi tiada yang menemu diri
Karena tak ada yang patut dipertemukan
Antara kepergian dan kepulangan

Padang, desember 2007