ODE SAJAK I
Kekasihku membangun nisan dalam sajakku ketika tungku sisakan abu
Aku maka bicara dalam rembang malam telanjang
“sunggingkan saja bibirmu,
akan kukejar bahagia walau satu debu .
tinta ini tak membangun rumah singgah, sayang
tapi membangkit istana sulaiman.”
ODE SAJAK II
Sajak-sajak bermenung di meja kamar
Mengantri sesak berpeluh berdebar
Menunggu disembelih—sebab wabah tak sudi memulih
Pengganti beras belumlah setara
Maka kubiar sajak-sajak ini
Menanggung pesakitan hingga nanti mati pasti
2 komentar:
Mas,
lewat puisi anda, siapsiap saja menmpung saya sebagai penggemar sajak anda. Mantap!
wah... saya baru nemu seorang penyair yang tersimpan dalam lemari sunyi.. Lalu kenapa tidak kau obral semuanya lewat angin, sehingga orang tahu siapa sang pemilik kata?
Puisi kamu bagus semua, tapi yang paling saya suka dua ode sajak.. menurut saya bagus sekali...
kenapa tidak di-update terus tiap hari (mungkin), nanti penggemar-penggemarmu yang lain kecewa karena hanya nemu postingan yang itu-itu saja...
salam kreatif...!!!
Posting Komentar