Selasa, 25 Maret 2008

BATU BATIKAM

usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.

kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi

merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak

yang menggenangi badan kita

hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada

dan langkahku kau genggam di hulunya.

juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,

tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita

di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam

maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8






PERISTIWA PULANG

di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin

yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata

dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.

sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.

bukan di gerbang stasiun atau rel karatan

kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan

kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja

matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi

hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.

dan matamu tetap saja air tawar

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8

KERANDA HUJAN

bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.

menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.

ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah

petuah yang kau kepalakan setingginya

ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu

kau minta aku membacanya

aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.

sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku

aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga

masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu

kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.

dan kau tak akan memugar payung bukan?

diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu. kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8