Selasa, 25 Maret 2008

KERANDA HUJAN

bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.

menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.

ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah

petuah yang kau kepalakan setingginya

ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu

kau minta aku membacanya

aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.

sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku

aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga

masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu

kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.

dan kau tak akan memugar payung bukan?

diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu. kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8

Tidak ada komentar: