KERANDA HUJAN
bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.
menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.
ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah
petuah yang kau kepalakan setingginya
ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu
kau minta aku membacanya
aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.
sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku
aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga
masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu
kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.
dan kau tak akan memugar payung bukan?
diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu. kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?
RuangSempit, 2008
Padang Ekspress, Maret 2oo8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar