
PERISTIWA PULANG
di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin
yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata
dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.
sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.
bukan di gerbang stasiun atau rel karatan
kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan
kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja
matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi
hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.
dan matamu tetap saja air tawar
RuangSempit, 2008
Padang Ekspress, Maret 2oo8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar