Selasa, 25 Maret 2008






PERISTIWA PULANG

di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin

yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata

dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.

sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.

bukan di gerbang stasiun atau rel karatan

kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan

kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja

matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi

hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.

dan matamu tetap saja air tawar

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8

Tidak ada komentar: