selain malam, ada yang tak sempat ku lukis dari parasmu. hingga tak bisa ku urai yang berdiam di balik teduh tirus itu. waktu begitu tergesa-gesa. aku jatuh di tikung basah ketika tatapku melabuh matamu. sedang kau tengah berunggun di kepalamu sambil
memintal akar-akar.
“jangan menyebut-nyebut kabar dari angin selarut ini. unggun api bisa padam”
namun sejauh mana sanggup mencari tepi dari selingkar air?
adakah kesanggupan bersitahan dengan nasib curian. atau dengan catatan cuaca yang memenuhi rambutmu merupa halaman tak bertangan.
barangkali disinilah cerita menjadi sejarah yang tak kunjung tercatat.
sebab malam tidur terlalu lelap. dan kau tak pernah melihat aku merupa siang yang mimpi dari tepimu.
karena ternyata selain malam, tak ada yang patut untuk ku lukis dari parasmu
ruangsempit, 2008