Rabu, 23 Januari 2008

ode sajak

ODE SAJAK I

Kekasihku membangun nisan dalam sajakku ketika tungku sisakan abu

Aku maka bicara dalam rembang malam telanjang

“sunggingkan saja bibirmu,

akan kukejar bahagia walau satu debu .

tinta ini tak membangun rumah singgah, sayang

tapi membangkit istana sulaiman.”

Padang, desember 2007

ODE SAJAK II

Sajak-sajak bermenung di meja kamar

Mengantri sesak berpeluh berdebar

Menunggu disembelihsebab wabah tak sudi memulih

Pengganti beras belumlah setara

Pula tak cukup berkelana

Maka kubiar sajak-sajak ini

Menanggung pesakitan hingga nanti mati pasti

Padang, desember 2007

GRAVITASI DI KENINGMU


di keningmu. telah aku lama menerka-nerka jalan yang patut

untuk kubaca bersama angin

disanalah pelan kau menyindirku dalam sejemput malam yang buat aku gamang

“keranjang apa kiranya yang kau bawa bersama kereta kuda”

selalu demikian.

kau pampang pintu lebar yang bersahut-sahut memanggilku untuk duduk bersila

“ambil lah sesukamu saja!” sembari menyodorkanku segala apa kau punyawalau hematku biasa saja

tapi di keningmu menyayat garis lurus berlampu gemintang yang sedang aku tuju

hingga keningku keningmu sepadan diadu

dan hai!jembatan tak terbangun dari pohon-pohon keningmu

LALU KITA PELURU

LALU KITA PELURU

Di tanah ini kita si tuli pelepas bedil

Si buta peniup lesung, dan

Si cacat penjaga ayam

Mereka bermain catur

D

H

O

R

R

R

Lalu kita peluru!

Selasa, 22 Januari 2008

Kabar Terkubur

;rindu kemenakan

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah aku eja serumpun makna walau tak bersua
kita pernah berdua mengekori apa maunya abad, pun jua tersesat
saat mengejar kilat air yang coba beramah tamah di padang pasir

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah kau pahat sendiri
rupa nisan sehabis mengkhatamkan sunyi

‘jadilah superman.” katamu
ketika kumenangis pulang sekolah. dan kau menyanyi lagu lawas
aku terlalu kepompong untuk meraba makna yang tak bersua

kemenakan rindu kau jinjing, mak
namun pangku pupus jinjingan retak
tongkat tertanam dimakan rayap
dan kau pulang tak bilang-bilang
dalam igau rindu ku pajang

jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
kusimpul saja makna baku:
sebuah bantal selimut tebal susu kental lebih ku kenal ketimbang menghafal sesal

tentang matahari yang padam di tungku api—lagi kau tangisi
kubilang aku terlalu kepompong untuk meramu madu dan mengasah pilu setajam paku
kaulah yang urung berkabar sebelum berkubur
perihal peti resah yang simpan rahasia; kesedihan

PELABUHAN

hari ini matahari terlambat bangun tidur, katamu
dan keabadian sajak telah kau pahat dalam ranjang-ranjang
yang mengekang lenguh-lenguh perawan
kalender-kalender telah botak. bila kau bosan mengangkat panggilan dari kesunyian,
di hatiku ada cermin retak. masuklah. angin terlalu kencang untuk berjalan
akan kita nyalakan tungku-tungku yang patahkan waktu setelah kau jemu pecahkan tampuk rindu
dinding-dinding yang sabar. kertas-kertas yang lapar.
adalah pelabuhan yang menampar tahun-tahun penantian para penggali sumur air mata
yang jenuh berkeluh kesah. catatlah! catatlah!
kegelisahanpun menahun
lahirkan tinta-tinta yang racun

padang, desember 2007

SAKIT RUMAH

ternyata masih kudengar sedu mu ketika ku tertatih menjerang kantuk.
hai. di suatu pagi, pernah pula ku dengar sedu yang sama
diantara kardus yang bisu, dan diantara selimut berbulu
menyerapahi gegedung yang menggunung
negri ini terlanjur konyol,
tempat disenandungkan sumpahsumpah yang klise
jadi kita tak perlu lagi memakai wajah ini mulai besok pagi
karena di bilangan pasirpasir, wajahwajah dapat digantiganti setiap hari
air mata tak lagi setajam pedang, dan kau tahu itu!
maka ini terlalu parak siang untuk mengelap peti kematian meski peradaban bukan lagi kawan sepermainan
aku tahu. kita serupa pencatat musim-musim yang singgah
dan di tepian pelabuhan kita terlanjur sakit rumah.

padang, desember 2007

BACALAH RAMBU

setiap pedang yang kau titip dalam hujan air liur. mengantar jabat tangan
yang sangat ku hafal dalam semata angin. lalu ribuan bertenggang pun ku habiskan membaca jejak
perjalanan yang kuraba dengan suluh redup.
kala ku tiba membawa kaba yang tak sudah. kau masih saja buta akan aksara pengembaraan. Oh, bukankah aku pernah mencabut sebatang rambu-rambu yang bertulis rindu dan memampang nya di depan pintu mu
yang tiap ku ketuk semakin ku terkutuk

jam dinding masih berlari, mandan.
mengerjaiku dengan bisik laut yang tak tentu masa yang dulu teringkari.
mungkin aku akan pulang pada dermaga yang kau bangun dari sisa kayu pagar itu suatu nanti.
ku harap kau tak lagi membaca terbalik rambu-rambu itu

padang, desember 2007

HALTE

Disini kita tak saling menemu diri. Sebab tak ada yang mesti dipertemukan
Diantara kepergian dan kepulangan.
Kau yang merajut payung; bilamana hatimu hujan saja tak peduli musim
Dan akulah yang selalu menolak pemberianmu
“bawalah, mendung sudah memberat.”
Aku tak perlu akannya. Bahagialah aku pada kekuyupanku

Seseorang telah membangun halte ini. tapi tiada yang menemu diri
Karena tak ada yang patut dipertemukan
Antara kepergian dan kepulangan

Padang, desember 2007