Selasa, 06 Mei 2008

LUKISAN MALAM DI PARASMU


selain malam, ada yang tak sempat ku lukis dari parasmu. hingga tak bisa ku urai yang berdiam di balik teduh tirus itu. waktu begitu tergesa-gesa. aku jatuh di tikung basah ketika tatapku melabuh matamu. sedang kau tengah berunggun di kepalamu sambil

memintal akar-akar.

“jangan menyebut-nyebut kabar dari angin selarut ini. unggun api bisa padam”

namun sejauh mana sanggup mencari tepi dari selingkar air?

adakah kesanggupan bersitahan dengan nasib curian. atau dengan catatan cuaca yang memenuhi rambutmu merupa halaman tak bertangan.

barangkali disinilah cerita menjadi sejarah yang tak kunjung tercatat.

sebab malam tidur terlalu lelap. dan kau tak pernah melihat aku merupa siang yang mimpi dari tepimu.

karena ternyata selain malam, tak ada yang patut untuk ku lukis dari parasmu

ruangsempit, 2008

MENGAPAK TARDJI

kubaca lagi tardji;

“akhirnya hurufku habislah sudah.

kata-kataku tak sebatas allah”

Beri aku arak!

aku ingin sebatas mabuk. menakik kata-kata yang kecamuk

patahkan kredo yang placebo

Beri aku kapak!

pecahlah almanak. pecahlah

segala tampak

ada tardji dalam aku sajak

ruangsempit, 2008

BERTINGGIRAN JENJANG


di tanah yang lama tak disilau kemarau

berserak jenjang-jenjang tak sanggup dikaping

“jangan bergesa membakarnya” kata mamak

barangkali suatu nanti ada yang rindu pijakan.

tapi jerajak terburu dibentang. menghalau siapa

yang menapak simpang-simpang yang saling memagar

pula tak siapa yang menyanggup untuk menakik petuah

yang hilang hulu dan muaranya


”kita terlanjur dikutuk jadi manusia yang rindu pertemuan”

kataku pada mamak dalam barasian

karena selalu tak satu yang tak tersinggah

atau jenjang yang tak tersilau sudah patut kita jelmakan getah

ruangsempit, 2008